Minggu, 28 April 2013

KASIH DAN KETAATAN

( Renungan Minggu 5 mei 2013)
Ada seorang raja memunyai putri yang cantik jelita. Kecantikan dari putri ini tersebar ke segala penjuru kerajaan dan kerajaan lain. Banyak pangeran dan raja yang melamar, tetapi puteri ini tidak mau menerima semua lamaran itu. Dia menginginkan calon suaminya adalah seorang ksatria yang gagah berani.  Putri mengusulkan suatu perlombaan untuk memenuhi keinginannya,  yaitu dengan cara berenang  pada suatu kolam.
Panjangnya kira-kira 100 meter dan lebarnya 50 meter. Pada kolam itu ada sejumlah besar ikan piranha yang sangat buas! Siapa yang berani berenang dan paling cepat, dialah yang akan menjadi suami putri cantik jelita.  Pada hari yang sudah ditentukan raja membuka sayembara. Berbondong-bondong orang, mendaftarkan diri untuk mengikuti  sayembara.
Sebelum perlombaan dimulai , pengawal melemparkan seekor domba ke dalam kolam itu, hanya dalam waktu beberapa menit kolam itu warnanya menjadi merah. Kiranya ikan piranha yang begitu banyak dan buas berpesta pora mengganyang domba itu. Yang muncul bukan domba lagi tapi tinggal kerangka saja! Pengawal kemudian memasukkan seekor gajah, gajah itu meronta-ronta kesakitan dan ikan-ikan piranha yang ganas itu menyerbu dan menggigit seluruh tubuh gajah . . . air menjadi kemerahan, bau amis darah. Dalam beberapa puluh menit gajah itu habis yang tinggal kerangkanya saja. Semua orang yang ada di sana menjerit histeris . . . orang-orang yang sudah mendaftarkan diri mengikuti sayembara itu satu demi satu tanpa “permisi” meninggalkan tempat itu dengan diam-diam.
Tidak ada yang mengambil resiko maut. Di tengah keheningan tiba-tiba byuruiurr …..seorang pemuda terjun ke kolam! Penonton memberi semangat dan tepuk tangan yang meriah, raja dan putri berdiri tertarik melihat keberanian pemuda itu. Pemuda itu berenang dengan sekuat tenaga, ikan-ikan piranha menyerbu  mangsanya. Si pemuda menyelam ke bawah … ke atas .. ke samping .. terus dikejar ikan-ikan buas. Si pemuda baru saja 10 menit  sudah mulai kelihatan kecapaian .. Seluruh anggota badannya mulai keluar darah . . . dengan sekuat tenaga ia berenang ke tepi kolam dan berhasil naik ke darat. Untung masih selamat, walaupun tidak sampai di tujuan.
Meski demikian orang-orang memuji keberanian pemuda ini, mereka mengangkatnya di pundak mereka mengelilingi arena syembara dengan teriakan,”Hidup pahlawan .. Hidup pahlawan pemberani….” Tapi pemuda itu minta diturunkan dari pundak orang-orang itu, sambil berkata dengan nada marah,”Siapa tadi yang mendorong saya hingga saya jatuh ke kolam?”  Ternyata pemuda ini bukan sengaja terjun ke kolam, tetapi didorong oleh orang lain dari belakang sehingga terpaksa terjun ke kolam.
Arti Sebuah Dorongan. Sang pemuda yang terjun ke air dan akhirnya dikagumi banyak orang dan mungkin akhirnya dianggap pantas mempersunting sang putri, ia bisa berhasil oleh karena mendapat dorongan dari belakang oleh seseorang yang tak diketahuinya. Tak mustahil dia bisa menjadi mangsa ikan piranha. Adalah nasib baiknya bahwa dia bisa selamat, meski tak berhasil sepenuhnya sampai seberang.
Sangat berbeda dengan dorongan yang dilakukan oleh Tuhan. Yang pertama kita melihat bagaimana Tuhan melalui Malaikat-Nya mendorong agar Kornelius segera menghubungi untuk menjemput Petrus. Andai  Kornelius mengetahui keberadaan Petrus di Yope, saya kira dia tetap tidak akan pernah seberani  mengundang Petrus, sebab dia merasa rendah diri sebagai bangsa yang non Yahudi. Tetapi Tuhan yang menghargai iman dan kesalehannya, memberikan dorongan yang jelas dan mengesankan melaui seorang malaikat-Nya. Kita melihat di sini kasih Tuhan yang telah melimpah sampai di luar batas umat Yahudi, sebab Tuhan tidak membedakan orang . “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Kisah Para Rasul 10:34,35.
Selain melihat kasih Tuhan, di sini kita juga melihat ketaatan Kornelius. Sedikit pun tidak ada penolakan atau keraguan dari pihak Kornelius  demi mendengar dorongan dari Tuhan. Sebaliknya kita melihat sambutannya yang sangat respontif dan sangat mungkin disertai kesukaan yang besar, ketika ia segera mengutus dua orang hamba dan seorang perajuritnya untuk menemui Petrus.  Sang pemuda tadi didorong orang untuk mencelakainya,  tapi dorongan Tuhan kepada Kornelius adalah untuk menyelamatkan dan meningkatkan kehidupan rohaninya.
Lebih jauh  kita juga melihat betapa Tuhan pun memberikan dorongan-Nya kepada Petrus melalui penglihatan  untuk memakan segala jenis binatang yang dipandangnya haram. Ternyata pencerahan yang diberikan Tuhan itu merupakan persiapan penting bagi Hamba-Nya untuk menyambut Kornelius serta segala bangsa di dunia ini. Hal ini juga menunjukkan kasih Tuhan yang besar kepada Petrus, bahwa Tuhan berkenan memakainya sebagai alat kecil yang hidup di dalam Kerajaan-Nya yang semakin diluaskan itu. Biarlah ketaatan Petrus melaksanakan rencana Tuhan itu kita ikuti, dengan membuka pintu Pemberitaan Injil kepada segala bangsa di dunia.
Apa yang terdapat di balik langkah besar Tuhan itu? Bagi umat Israel tentu merupakan tanda tanya besar , mengapa Tuhan mau menjangkau semua bangsa di dunia? Bukankah itu akan sangat “merepotkan” Tuhan sendiri? Dan itu benar, sebab segala bangsa itu sudah memunyai  kepercayaan serta allahnya sendiri-sendiri? Dan bukankah teramat sulitnya manusia berubah paradigma apalagi keyakinan hidupnya?
Kesulitan akan meningkat ketika umat Tuhan yang terdahulu merasa lebih superior dan merasa menjadi “anak emas” Tuhan. Tapi dalam rangka penerimaan Kornelius kita melihat peristiwa yang menggembirakan, ketika tiba-tiba Roh Kudus menunjukkan keberpihakan-Nya kepada bangsa-bangsa lain itu. “Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat , bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga.” Kisah Para Rasul 10:45.
Bagi Tuhan semakin ada banyak tantangan yang menghadang, semakin banyak kesempatan untuk menunjukkan keseriusan-Nya untuk menyelamatakn umat manusia. Mengenai sikap Tuhan terhadap umat manusia di dunia ini ada satu tulisan menarik sebagai berikut:  Siapakah Yang Dikasihi Olah Allah? Pada waktu berbicara kepada Jemaat di bagian barat Amerika Serikat, seorang pengkhotbah yang berbakat menyampaikan demikian,”Kasih Allah adalah untuk orang-orang tidak menarik. Tapi saya kuatir bahwa orang-orang yang merasa dirinya seperti itu hanya sedikit saja yang hadir di sini. Kasih Allah adalah untuk orang-orang yang tidak layak, yang sama sekali tidak memunyai hak untuk menuntut agar dikasihi oleh Allah. Dan mujizat terbesar ialah bahwa kasih Allah itu untuk orang-orang  yang tidak berminat, dan tidak mau dikasihi.” “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal!”
Berada di dalam rangkulan kasih Kristus, kita akan semakin mengenal Dia.
Bilamana Tuhan menjangkau semua bangsa itu berarti ada dua langkah penting yang dilakukan Tuhan. Langkah pertama adalah “merangkul umat manusia” dengan kasih sayang-Nya yang besar. Semua pengikut Tuhan mendapat tugas-suci untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan yang sangat ingin bisa merangkul mereka itu. Kenyataan menunjukkan bahwa ketertarikan orang kepada Tuhan Yesus lewat para pengikutnya, bukan karena mereka pandai bicara tentang Alkitab atau hal-hal yang lain tapi hanya karena sikap hidup yang diwarnai oleh kasih. Itu berarti perbuatan kita memunyai kekuatan yang berlipat dibandingkan perkataan kita.
Kalau begitu “pemberitaan” Injil ternyata tidak semata secara verbal. Dialog bukan mengutamakan pembicaraan apalagi perdebatan. Sesudah seseorang berada di dalam lingkungan kasih Kristus, tahap berikut adalah menjalani proses pengenalan lebih jauh.  Dalam proses ini tentu saja terjadi terus peningkatan yang menuju kepada kedewasaan iman. Sebanding dengan seberapa besar pengenalan kita, maka Tuhan juga akan memberikan tuntutannya untuk kita lakukan.
Hal itu tidak dirasakan sebagai beban yang menekan tapi justru menggairahkan. Dengan kata lain ada kasih dan ketaatan yang terus berjalan seimbang. Kasih Tuhan adalah kasih yang mengalir turun; seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu (Yohanes 15:9). Lalu tuntutan yang sepadan diberikan Tuhan Yesus kepada kita,”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti  Aku telah mengasihi kamu.” Yohanes 15:12. Mengapa saya katakan “tuntutan yang sepadan”?   Oleh karena kita telah menerima tiga hal yang sangat luar biasa dari Yesus Kristus:  1. Kita dijadikan sahabat-Nya.  2. Dia sudah rela mati bagi kita.  3. Kita beroleh hubungan kerahasiaan dengan Dia, sampai segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa diberitahukan kepada kita.
Maka dalam I Yohanes 5:3 kembali ditekankan sebagai orang yang dikasihi-Nya kita patut menunjukkan kasih kita kepada Allah dengan cara yang kongkrit, yaitu melakukan perintah-perintah Nya, tentu saja sebagai bentuk ketaatan kita. Bicara mengenai ketaatan ada sebuah anekdot yang menceritakan percakapan dua orang penginjil, dari Indonesia dan China. Penginjil Indonesia bertanya,”Aku sungguh-sungguh melayani Tuhan di tempat ini, tapi hanya sedikit sekali yang bertobat.” “Itu sudah jelas,” jawab penginjil dari China. “Karena setiap orang Indonesia membaca Firman Tuhan dari kiri ke kanan, lalu mulai dari kiri ke kanan lagi, berarti terus geleng-geleng kepala. Sama dengan tidak bersedia menaati Firman Tuhan. Berbeda dengan orang China dari atas ke bawah, mengangguk-angguk terus tanda setuju kepada Firman Tuhan dan bersedia untuk menaatinya.(Oleh Pdt Em. Daud Adiprasetya)

Selasa, 23 April 2013

KEHIDUPAN YANG SALING MENGASIHI




Yohanes 13 : 34 - 35
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Ada banyak cara bagaimana orang lain dapat mengenal kita sebagai orang Kristen, misalnya melalui perhiasan yang kita pakai, sticker yang tertempel di mobil kita, atau doa makan yang dilakukan dan dapat juga melalui kebiasaan kita untuk pergi ke gereja dan lain sebagainya. Tuhan Yesus mengajarkan di dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang akan mengenal kita sebagai murid-murid Kristus melalui saling mengasihi di antara kita. Apabila kita membaca di dalam Kisah Para Rasul 2 : 47 "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.", kita mendapatkan bahwa memang penambahan orang-orang percaya adalah pekerjan Tuhan, tetapi Tuhan juga memakai persekutuan di dalam gereja-Nya yang saling mengasihi. Pengenalan orang kepada kita sebagai murid-murid Tuhan melalui saling mengasihi memiliki suatu kekuatan yang besar baik secara natural maupun secara supranatural (pekerjaan Tuhan) menarik orang lain untuk masuk di dalam persekutuan dan percaya. Acapkali kita menjumpai bahwa argumentasi yang baik bagaimanapun tentang iman seringkali orang lain tetapi tidak percaya, namun saling mengasihi memiliki kekuatan untuk dipercaya oleh orang lain. Dari apa yang kita baca dari Yohanes 13 : 35 itu, seharusnya menyadarkan kita bahwa interaksi kasih di dalam gereja Tuhan memberikan kesaksian yang kuat sekali kepada dunia ini dan saling mengasihi adalah karakteristik daripada murid-murid Kristus.
KEKUATAN SALING MENGASIHI
Pada bagian di atas, kita sudah melihat bagaimana kekuatan saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan kepada orang lain. Namun tidak berhenti di sana, saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan juga menjadi kekuatan yang besar di dalam anak-anak Tuhan itu sendiri baik secara individu maupun secara kebersamaan. Kasih yang seperti ini adalah kasih yang memberdayakan, yaitu kasih yang bersifat dua arah, di mana dengan berjalan waktu, maka setiap individu di dalamnya semakin dimampukan untuk lebih mengasihi. Berbeda sekali dengan kasih yang bersifat satu arah! Kasih yang satu arah atau senantiasa hendak dikasihi tanpa mau membalas kasih akan mengalami kasih yang memperdayakan, karena kasih yang dialaminya tidak membuat dia mampu mengasihi, melainkan menjadi terlena dan semakin lemah. Gereja yang anggota-anggotanya saling mengasihi memberikan suatu pertumbuhan bagi anggota-anggota secara signifikan, karena setiap anggotanya dapat dengan bebas, tanpa curiga dan ketakutan, mengekspresikan kasihnya. Dan hal ini adalah suatu latihan yang amat bernilai, yaitu latihan bagaimana kita mengasihi orang lain.
MENGATASI KESULITAN SALING MENGASIHI
Kita semua sadar bahwa tidak mudah untuk saling mengasihi di dalam gereja Tuhan. Ada banyak alas an mengapa hal itu menjadi sulit. Kesulitan itu seringkali membuat kita tidak melakukan apa yang Tuhan inginkan. Mengapa terjadi kesulitan itu dan bagaimanakah jalan keluarnya?
  1. Apabila kita mengasihi semata-mata berdasarkan apa yang kita rasakan atau perasaan kita, maka kita sulit sekali untuk bisa terlibat di dalam saling mengasihi di dalam gereja. Karena orang-orang yang ada di dalam gereja tidak semua kita kenal. Kenal merupakan hal yang amat penting di dalam kasih menurut perasaan! Belum lagi ada orang-orang yang kita kenal, tetapi kita kurang dapat menerima orang-orang tersebut dengan pelbagai alasan. Alkitab dengan konsisten menempatkan kasih pada konteks perintah Tuhan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa kasih adalah sesuatu yang harus ditaati sepenuhnya apapun perasaan dan situasi yang kita alami. Artinya kasih bukan didasarkan kepada perasaan kita, melainkan kepada komitmen kehendak kita untuk mengasihi. Kasih yang seperti ini memungkinkan kita untuk mengasihi musuh kita. Apakah kasih seperti ini adalah kasih yang munafik? Kasih yang munafik bukanlah kasih, karena memiliki bersifat ketidaktulusan. Kasih di dalam konteks perintah Tuhan tidak demikian, melainkan kasih yang dilakukan karena hendak menaati Tuhan dan dengan kesungguhan agar kasih yang dinyatakan sesuai juga dengan apa yang terjadi dalam batin kita.
  2. Apabila kita mengasihi semata-mata hanya melihat siapa yang kita kasihi, maka kita sulit sekali untuk saling mengasihi. Setiap orang pasti adalah kelemahan dan kekurangan, bahkan meskipun orang tersebut tidak berbuat sesuatu yang salah sekalipun, tidak selalu hal itu menjadikan kita dapat akrab dengan orang tersebut. Masalahnya adalah setiap kita memiliki citarasa tersendiri di dalam bergaul. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia memberikan perintah baru! "Baru" karena ada sebuah teladan yang sempurna yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib bagi kita, itulah yang disebut dengan "sebagaimana Aku telah mengasihi kamu" Ketika mata kita tertuju kepada apa yang telah Kristus perbuat bagi kita, maka pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus dan teladan Kristus memberikan suatu dorongan yang amat besar untuk kita mampu saling mengasihi tanpa suatu syarat apapun.
  3. Apabila kita mengasihi berdasarkan kekuatan kita sendiri, maka kita sulit sekali untuk hidup saling mengasihi. Perintah baru Tuhan Yesus didasarkan atas karya Kristus di kayu salib dan melalui karya tersebut setiap orang percaya menerima Roh Kudus. Perintah baru ini bukan berdasarkan kekuatan diri sendiri, melainkan berdasarkan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Ketaatan adalah pintu terbuka bagi keleluasaan Roh Kudus bekerja dan menghasilkan buah Roh Kudus dengan heran.
SALING MENGASIHI: EKSKLUSIF?
Apakah dengan perintah saling mengasihi di antara orang percaya memberikan dorongan bagi orang-orang Kristen untuk hidup secara eksklusif? Tidak demikian! Alkitab mengatakan: "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." ( I Yohanes 4 : 12). Kehadiran Allah di tengah-tengah kita yang saling mengasihi mendorong kita untuk juga mengasihi orang lain. Kehadiran Allah di tengah-tengah kita tidak membuat kita menjadi orang-orang Kristen yang nyaman hanya untuk dirinya sendiri, melain menjadikan orang-orang Kristen yang rindu berbagi kasih dengan orang lain juga. Secara psikologis, maka orang-orang yang mengalami suatu kehidupan komunitas yang saling mengasihi menjadi individu-individu yang sehat dan sanggup bahkan mau membagikan kasih juga dengan orang lain. Saling mengasihi yang eksklusif bukan kasih yang sesungguhnya yang Allah kehendaki.(Pdt. Reggy Andreas)  .

Kamis, 28 Maret 2013

YESUS SUNGGUH BANGKIT



Pada pertengahan bulan Maret ini tepatnya tanggal 12 Maret 2013 yang lalu, hampir semua pendeta dan para penatua dan calon penatua dilingkuangan GKI seklasis  Bandung dikumpul untuk  mendapat pembekalan apa yang disebut PPG atau singkatan dari Pembinaan Pejabat Gerejawi.  Disini para pejabat  gerejawi  di berikan bekal ilmu dan pengetahuan secara theologia bagaimana menjadi seorang peminpin atau gembala yang baik dalam lingkup pelayanan GKI. Dalam suatu sesi pengajaran tentang  dogma GKI ada suatu pandangan menarik yang dikemukan tentang hal hal menyangkut gerejawi(rohani ) dan duniawi (tidak rohani)oleh seorang tutor. Sebagai contoh, berdoa, beribadah,kegereja, melakukan  pelayanan doa bagi yang sakit, atau perlawatan dan lain sebagainya, itu semua dikategorikan suatu yang rohani. Sedangkan untuk kesenangan dunia seperti, tamasya , berolah-raga, menonton bioskop atau pesta makan makan dan lain sebagainya  adalah di kategorikan yang tidak rohani (duniawi). Menurut sang  tuthor Pdt. Yoas. yang diklasifikaikan tersebut dengan dua kategori diatas ada salah semua dan tidak benar. Sesuatu  yang keliahatan rohani dan alktabia apabila dilakukan dengan suatu tindakan dan montivasi yang tidak benar akan menjadi sesuatu yang sangat duniawi. Sebaliknya sesuatu yang dikategorikan hal duniawi bisa menjadi sesuatu yang rohani apabila dilakukan dengan suatu motivasi dan tujuan yang baik dan hal ini bahkan akan menjadi suatu hal rohani sekali. Itu semua tergantung kita melakukannya dengan tujuan atau motivasi yang baik atau buruk.
Demikian halnya dengan ilmu pengetahuan, ada kalanya orang kristen terlalu terjebak  dengan mengklasifikasi ilmu pengetahuan dengan apa yang dinyatakan dalam kita suci (Alkitab). Bagi kita yang selalu mengganggap ilmu pengetahu adalah segalanya karena bisa dibuktikan secara empiris, sehingga menganggap bahwa kitab suci (Alkitab) adalah suatu pengetahuan ketuhanan yang ada yang tidak bisa di buktikan secara fakta. Sebaliknyanya, bagi umat yang hanya selalu berpegang pada ajaran kitab suci (Alkitab) akan selalu menolak dan mencurigai  semua upaya ilmu pengetahuan, hal ini disebabkan bahwa pandangan tentang  kebenaran Allah semuanya hanya dinyatakan dalam kitab Suci. Mungkin  umat tidak menyadari bahwa apa yang termaktup (sebagian besar) dalam kitab suci (Akitab) adalah catatan sejarah yang terjadi di masa lampau mengenai kehidupan para orang suci  (Nabi dan rasul) termasuk apa yang dilakukan nya dengan menjalankan misi Allah dalam dunia yang semuanya di rekam atau dicatat dalam bentuk kitab suci. Bagi mereka yang mengidolakan ilmu pengetahuan  mereka juga tidak menyadari bahwah ilmu pengetahuan juga punya keterbatasan, karena hanya mampu menyelidiki berbagai hal yang bersifat fisik yang terbatas cara pandang secara ratio dan tidak mampu membuktikan beberapa hal yang menyangkut  spiritual yang transrasional.
Sekarang bagaimana cara pandang  dari segi fakta  ilmu pengetahuan sejarah dan pandangan secara Alkitabia tentang  “Kisah Kebangkitan kristus”?
 Dari segi ilmu pengetahuan secara Anthropology beberapa fakta ilmiah yang sudah ditemukan mengenai benda benda fakta sejarah tentang  kematian serta kebangkitan Yesus. Secara Alkitabia bahwa kematian dan kebangkitan Yesus merupakan rencana dan rancangan Allah yang sudah ditetapkan sesuai dengan nubuat para nabi dalam kitab Perjanjian Lama. Dalam kitab perjanjian baru (Lukas. 24 : 7) Yesus sendiri sudah mengetahui apa yang akan Dia alami, itu adalah fakta keilahian Yesus .
                                                              
Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.

Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta  kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.

Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang menyaksikan kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana  orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu  menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Dan ini Bukan sekedar pembicaraan ajaran, tetapi  adalah pembicaraan tentang fakta sejarah.
Injil-injil menjelaskan fakta-fakta yang berhubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus lebih detail dari bagian manapun pelayanan Yesus. Detil dari kebangkitan Yesus harus diterima seperti halnya detil kematian-Nya.

Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa: Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Murid-murid-Nya menjadi sangat kehilangan semangat dan takut.
Beberapa waktu yang singkat kemudian tiba-tiba semangat mereka bangkit, dan menunjukkan suatu semangat dan keberanian yang sangat tinggi, hingga tahap bersedia mati menjadi martir. Jika kita bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan perubahan ini, mereka tidak akan menjawab, 'Karena penyaliban, kematian dan penguburan seorang yang pernah hidup', tetapi mereka akan menjawab, 'Karena Tuhan telah bangkit'. Inilah yang menyebabkan orang-orang menjadi percaya.

Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Catatan sejarahwan Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3,
"Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah."

Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Penampakan ini terjadi dalam waktu yang dapat ditentukan, kepada banyak orang yang dapat ditentukan, dan dalam tempat yang dapat ditentukan.

Para murid percaya karya penebusan Yesus melalui bukti yang sangat kuat mengenai kebangkitan-Nya dan bukti ini tersedia kepada kita sekarang melalui catatan Perjanjian Baru. Ini penting bagi kita yang hidup di dalam jaman yang meminta bukti untuk mendukung pernyataan Kekristenan mengenai kebangkitan Kristus; untuk menjawab mereka yang meminta bukti sejarah Kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus berdasar kepada fakta sejarah, dan merupakan sumber motivasi yang kuat orang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ada bukti-bukti yang tidak dapat disanggah mengenai kebangkitan Kristus dalam surat-surat Paulus. Surat-surat yang ditujukan kepada: Galatia, Korintus, dan Roma, adalah surat yang ditulis Rasul Paulus selama dalam perjalanan misi antara tahun 55-58 M. Ini menunjukkan bahwa bukti-bukti kebangkitan Kristus sangat dekat dengan peristiwa itu sendiri, karena Paulus sendiri berbicara secara jelas bahwa materi surat yang ia tulis isinya sama dengan yang ia bicarakan waktu ia bersama-sama dengan mereka.

Kebangkitan Kristus adalah dasar dari pembelaan iman Kristen. Rasul-rasul adalah saksi kebangkitan: "... mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." (Kisah Para Rasul 1:22).

Isi dari pengajaran rasul Paulus saat di Athena adalah: "Yesus dan Kebangkitan" (Kisah Para Rasul 17:18).  Khotbah pertama Petrus adalah tentang Kebangkitan: "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi" (Kisah Para Rasul 2:32).

Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.Dan kebangkitan Yesus adalah kuasa serta kasih karunia Allah  terhadap umat manusia, itu adalah fakta Ilahi.