Selasa, 23 April 2013

KEHIDUPAN YANG SALING MENGASIHI




Yohanes 13 : 34 - 35
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Ada banyak cara bagaimana orang lain dapat mengenal kita sebagai orang Kristen, misalnya melalui perhiasan yang kita pakai, sticker yang tertempel di mobil kita, atau doa makan yang dilakukan dan dapat juga melalui kebiasaan kita untuk pergi ke gereja dan lain sebagainya. Tuhan Yesus mengajarkan di dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang akan mengenal kita sebagai murid-murid Kristus melalui saling mengasihi di antara kita. Apabila kita membaca di dalam Kisah Para Rasul 2 : 47 "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.", kita mendapatkan bahwa memang penambahan orang-orang percaya adalah pekerjan Tuhan, tetapi Tuhan juga memakai persekutuan di dalam gereja-Nya yang saling mengasihi. Pengenalan orang kepada kita sebagai murid-murid Tuhan melalui saling mengasihi memiliki suatu kekuatan yang besar baik secara natural maupun secara supranatural (pekerjaan Tuhan) menarik orang lain untuk masuk di dalam persekutuan dan percaya. Acapkali kita menjumpai bahwa argumentasi yang baik bagaimanapun tentang iman seringkali orang lain tetapi tidak percaya, namun saling mengasihi memiliki kekuatan untuk dipercaya oleh orang lain. Dari apa yang kita baca dari Yohanes 13 : 35 itu, seharusnya menyadarkan kita bahwa interaksi kasih di dalam gereja Tuhan memberikan kesaksian yang kuat sekali kepada dunia ini dan saling mengasihi adalah karakteristik daripada murid-murid Kristus.
KEKUATAN SALING MENGASIHI
Pada bagian di atas, kita sudah melihat bagaimana kekuatan saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan kepada orang lain. Namun tidak berhenti di sana, saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan juga menjadi kekuatan yang besar di dalam anak-anak Tuhan itu sendiri baik secara individu maupun secara kebersamaan. Kasih yang seperti ini adalah kasih yang memberdayakan, yaitu kasih yang bersifat dua arah, di mana dengan berjalan waktu, maka setiap individu di dalamnya semakin dimampukan untuk lebih mengasihi. Berbeda sekali dengan kasih yang bersifat satu arah! Kasih yang satu arah atau senantiasa hendak dikasihi tanpa mau membalas kasih akan mengalami kasih yang memperdayakan, karena kasih yang dialaminya tidak membuat dia mampu mengasihi, melainkan menjadi terlena dan semakin lemah. Gereja yang anggota-anggotanya saling mengasihi memberikan suatu pertumbuhan bagi anggota-anggota secara signifikan, karena setiap anggotanya dapat dengan bebas, tanpa curiga dan ketakutan, mengekspresikan kasihnya. Dan hal ini adalah suatu latihan yang amat bernilai, yaitu latihan bagaimana kita mengasihi orang lain.
MENGATASI KESULITAN SALING MENGASIHI
Kita semua sadar bahwa tidak mudah untuk saling mengasihi di dalam gereja Tuhan. Ada banyak alas an mengapa hal itu menjadi sulit. Kesulitan itu seringkali membuat kita tidak melakukan apa yang Tuhan inginkan. Mengapa terjadi kesulitan itu dan bagaimanakah jalan keluarnya?
  1. Apabila kita mengasihi semata-mata berdasarkan apa yang kita rasakan atau perasaan kita, maka kita sulit sekali untuk bisa terlibat di dalam saling mengasihi di dalam gereja. Karena orang-orang yang ada di dalam gereja tidak semua kita kenal. Kenal merupakan hal yang amat penting di dalam kasih menurut perasaan! Belum lagi ada orang-orang yang kita kenal, tetapi kita kurang dapat menerima orang-orang tersebut dengan pelbagai alasan. Alkitab dengan konsisten menempatkan kasih pada konteks perintah Tuhan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa kasih adalah sesuatu yang harus ditaati sepenuhnya apapun perasaan dan situasi yang kita alami. Artinya kasih bukan didasarkan kepada perasaan kita, melainkan kepada komitmen kehendak kita untuk mengasihi. Kasih yang seperti ini memungkinkan kita untuk mengasihi musuh kita. Apakah kasih seperti ini adalah kasih yang munafik? Kasih yang munafik bukanlah kasih, karena memiliki bersifat ketidaktulusan. Kasih di dalam konteks perintah Tuhan tidak demikian, melainkan kasih yang dilakukan karena hendak menaati Tuhan dan dengan kesungguhan agar kasih yang dinyatakan sesuai juga dengan apa yang terjadi dalam batin kita.
  2. Apabila kita mengasihi semata-mata hanya melihat siapa yang kita kasihi, maka kita sulit sekali untuk saling mengasihi. Setiap orang pasti adalah kelemahan dan kekurangan, bahkan meskipun orang tersebut tidak berbuat sesuatu yang salah sekalipun, tidak selalu hal itu menjadikan kita dapat akrab dengan orang tersebut. Masalahnya adalah setiap kita memiliki citarasa tersendiri di dalam bergaul. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia memberikan perintah baru! "Baru" karena ada sebuah teladan yang sempurna yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib bagi kita, itulah yang disebut dengan "sebagaimana Aku telah mengasihi kamu" Ketika mata kita tertuju kepada apa yang telah Kristus perbuat bagi kita, maka pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus dan teladan Kristus memberikan suatu dorongan yang amat besar untuk kita mampu saling mengasihi tanpa suatu syarat apapun.
  3. Apabila kita mengasihi berdasarkan kekuatan kita sendiri, maka kita sulit sekali untuk hidup saling mengasihi. Perintah baru Tuhan Yesus didasarkan atas karya Kristus di kayu salib dan melalui karya tersebut setiap orang percaya menerima Roh Kudus. Perintah baru ini bukan berdasarkan kekuatan diri sendiri, melainkan berdasarkan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Ketaatan adalah pintu terbuka bagi keleluasaan Roh Kudus bekerja dan menghasilkan buah Roh Kudus dengan heran.
SALING MENGASIHI: EKSKLUSIF?
Apakah dengan perintah saling mengasihi di antara orang percaya memberikan dorongan bagi orang-orang Kristen untuk hidup secara eksklusif? Tidak demikian! Alkitab mengatakan: "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." ( I Yohanes 4 : 12). Kehadiran Allah di tengah-tengah kita yang saling mengasihi mendorong kita untuk juga mengasihi orang lain. Kehadiran Allah di tengah-tengah kita tidak membuat kita menjadi orang-orang Kristen yang nyaman hanya untuk dirinya sendiri, melain menjadikan orang-orang Kristen yang rindu berbagi kasih dengan orang lain juga. Secara psikologis, maka orang-orang yang mengalami suatu kehidupan komunitas yang saling mengasihi menjadi individu-individu yang sehat dan sanggup bahkan mau membagikan kasih juga dengan orang lain. Saling mengasihi yang eksklusif bukan kasih yang sesungguhnya yang Allah kehendaki.(Pdt. Reggy Andreas)  .

Kamis, 28 Maret 2013

YESUS SUNGGUH BANGKIT



Pada pertengahan bulan Maret ini tepatnya tanggal 12 Maret 2013 yang lalu, hampir semua pendeta dan para penatua dan calon penatua dilingkuangan GKI seklasis  Bandung dikumpul untuk  mendapat pembekalan apa yang disebut PPG atau singkatan dari Pembinaan Pejabat Gerejawi.  Disini para pejabat  gerejawi  di berikan bekal ilmu dan pengetahuan secara theologia bagaimana menjadi seorang peminpin atau gembala yang baik dalam lingkup pelayanan GKI. Dalam suatu sesi pengajaran tentang  dogma GKI ada suatu pandangan menarik yang dikemukan tentang hal hal menyangkut gerejawi(rohani ) dan duniawi (tidak rohani)oleh seorang tutor. Sebagai contoh, berdoa, beribadah,kegereja, melakukan  pelayanan doa bagi yang sakit, atau perlawatan dan lain sebagainya, itu semua dikategorikan suatu yang rohani. Sedangkan untuk kesenangan dunia seperti, tamasya , berolah-raga, menonton bioskop atau pesta makan makan dan lain sebagainya  adalah di kategorikan yang tidak rohani (duniawi). Menurut sang  tuthor Pdt. Yoas. yang diklasifikaikan tersebut dengan dua kategori diatas ada salah semua dan tidak benar. Sesuatu  yang keliahatan rohani dan alktabia apabila dilakukan dengan suatu tindakan dan montivasi yang tidak benar akan menjadi sesuatu yang sangat duniawi. Sebaliknya sesuatu yang dikategorikan hal duniawi bisa menjadi sesuatu yang rohani apabila dilakukan dengan suatu motivasi dan tujuan yang baik dan hal ini bahkan akan menjadi suatu hal rohani sekali. Itu semua tergantung kita melakukannya dengan tujuan atau motivasi yang baik atau buruk.
Demikian halnya dengan ilmu pengetahuan, ada kalanya orang kristen terlalu terjebak  dengan mengklasifikasi ilmu pengetahuan dengan apa yang dinyatakan dalam kita suci (Alkitab). Bagi kita yang selalu mengganggap ilmu pengetahu adalah segalanya karena bisa dibuktikan secara empiris, sehingga menganggap bahwa kitab suci (Alkitab) adalah suatu pengetahuan ketuhanan yang ada yang tidak bisa di buktikan secara fakta. Sebaliknyanya, bagi umat yang hanya selalu berpegang pada ajaran kitab suci (Alkitab) akan selalu menolak dan mencurigai  semua upaya ilmu pengetahuan, hal ini disebabkan bahwa pandangan tentang  kebenaran Allah semuanya hanya dinyatakan dalam kitab Suci. Mungkin  umat tidak menyadari bahwa apa yang termaktup (sebagian besar) dalam kitab suci (Akitab) adalah catatan sejarah yang terjadi di masa lampau mengenai kehidupan para orang suci  (Nabi dan rasul) termasuk apa yang dilakukan nya dengan menjalankan misi Allah dalam dunia yang semuanya di rekam atau dicatat dalam bentuk kitab suci. Bagi mereka yang mengidolakan ilmu pengetahuan  mereka juga tidak menyadari bahwah ilmu pengetahuan juga punya keterbatasan, karena hanya mampu menyelidiki berbagai hal yang bersifat fisik yang terbatas cara pandang secara ratio dan tidak mampu membuktikan beberapa hal yang menyangkut  spiritual yang transrasional.
Sekarang bagaimana cara pandang  dari segi fakta  ilmu pengetahuan sejarah dan pandangan secara Alkitabia tentang  “Kisah Kebangkitan kristus”?
 Dari segi ilmu pengetahuan secara Anthropology beberapa fakta ilmiah yang sudah ditemukan mengenai benda benda fakta sejarah tentang  kematian serta kebangkitan Yesus. Secara Alkitabia bahwa kematian dan kebangkitan Yesus merupakan rencana dan rancangan Allah yang sudah ditetapkan sesuai dengan nubuat para nabi dalam kitab Perjanjian Lama. Dalam kitab perjanjian baru (Lukas. 24 : 7) Yesus sendiri sudah mengetahui apa yang akan Dia alami, itu adalah fakta keilahian Yesus .
                                                              
Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.

Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta  kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.

Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang menyaksikan kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana  orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu  menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Dan ini Bukan sekedar pembicaraan ajaran, tetapi  adalah pembicaraan tentang fakta sejarah.
Injil-injil menjelaskan fakta-fakta yang berhubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus lebih detail dari bagian manapun pelayanan Yesus. Detil dari kebangkitan Yesus harus diterima seperti halnya detil kematian-Nya.

Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa: Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Murid-murid-Nya menjadi sangat kehilangan semangat dan takut.
Beberapa waktu yang singkat kemudian tiba-tiba semangat mereka bangkit, dan menunjukkan suatu semangat dan keberanian yang sangat tinggi, hingga tahap bersedia mati menjadi martir. Jika kita bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan perubahan ini, mereka tidak akan menjawab, 'Karena penyaliban, kematian dan penguburan seorang yang pernah hidup', tetapi mereka akan menjawab, 'Karena Tuhan telah bangkit'. Inilah yang menyebabkan orang-orang menjadi percaya.

Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Catatan sejarahwan Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3,
"Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah."

Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Penampakan ini terjadi dalam waktu yang dapat ditentukan, kepada banyak orang yang dapat ditentukan, dan dalam tempat yang dapat ditentukan.

Para murid percaya karya penebusan Yesus melalui bukti yang sangat kuat mengenai kebangkitan-Nya dan bukti ini tersedia kepada kita sekarang melalui catatan Perjanjian Baru. Ini penting bagi kita yang hidup di dalam jaman yang meminta bukti untuk mendukung pernyataan Kekristenan mengenai kebangkitan Kristus; untuk menjawab mereka yang meminta bukti sejarah Kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus berdasar kepada fakta sejarah, dan merupakan sumber motivasi yang kuat orang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ada bukti-bukti yang tidak dapat disanggah mengenai kebangkitan Kristus dalam surat-surat Paulus. Surat-surat yang ditujukan kepada: Galatia, Korintus, dan Roma, adalah surat yang ditulis Rasul Paulus selama dalam perjalanan misi antara tahun 55-58 M. Ini menunjukkan bahwa bukti-bukti kebangkitan Kristus sangat dekat dengan peristiwa itu sendiri, karena Paulus sendiri berbicara secara jelas bahwa materi surat yang ia tulis isinya sama dengan yang ia bicarakan waktu ia bersama-sama dengan mereka.

Kebangkitan Kristus adalah dasar dari pembelaan iman Kristen. Rasul-rasul adalah saksi kebangkitan: "... mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." (Kisah Para Rasul 1:22).

Isi dari pengajaran rasul Paulus saat di Athena adalah: "Yesus dan Kebangkitan" (Kisah Para Rasul 17:18).  Khotbah pertama Petrus adalah tentang Kebangkitan: "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi" (Kisah Para Rasul 2:32).

Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.Dan kebangkitan Yesus adalah kuasa serta kasih karunia Allah  terhadap umat manusia, itu adalah fakta Ilahi.


Kamis, 28 Februari 2013

PERJAMUAN KUDUS

Perjamuan Kudus, Perjamuan Suci, Perjamuan Paskah, atau Sakramen Ekaristi adalah salah satu sakramen yang dikenal di dalam Gereja Kristen. Istilah ekaristi yang berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, yang berarti berterima kasih atau bergembira, lebih sering digunakan oleh gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan Lutheran, sedangkan istilah Perjamuan Kudus digunakan oleh gereja Protestan. Perjamuan Kudus didasari pada makan malam terakhir Yesus dengan murid-muridnya pada malam sebelum ia ditangkap dan disalibkan (Markus 14:12-21. dll.).

Makna Perjamuan Kudus
Pada umumnya orang Kristen percaya bahwa mereka diperintahkan Yesus untuk mengulangi peristiwa perjamuan ini untuk memperingatinya (“… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” – 1 Kor. 11:24, 25). Namun berbagai aliran Gereja Kristen memberikan pengertian yang berbeda-beda pula terhadap sakramen ini. Gereja Katolik Roma menekankan arti perjamuan kudus sebagai sarana keselamatan bagi umat. Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia.
Elemen Perjamuan
Seperti halnya pada perjamuan Yesus yang terakhir, umat Kristen bersama-sama memakan roti dan meminum anggur. Dalam hal inipun terdapat perbedaan praktek sesuai dengan tradisi gereja. Di kalangan Gereja Katolik Roma roti yang digunakan dibuat khusus tanpa ragi (hosti), sementara anggur tidak diberikan kepada umat. Di kalangan Gereja Protestan digunakan roti biasa, sementara anggur yang digunakan bisa juga berupa jus anggur.
Apa pentingnya Perjamuan Kudus?
Mempelajari Perjamuan Kudus adalah pengalaman yang menyentuh sanubari karena dalamnya makna yang dikandung. Adalah pada saat merayakan Pasah pada malam menjelang kematianNya Yesus menetapkan sebuah perjamuan baru yang bermakna yang kita peringati sampai saat ini, dan yang merupakan pengungkapan tertinggi dalam ibadah Kristiani. Perjamuan Kudus adalah ”khotbah dalam perbuatan,” memperingati kematian dan kebangkitan Tuhan kita, dan memandang ke masa yang akan datang di mana Dia akan datang kembali dalam kemuliaan.
Hari Pasah adalah perayaan yang paling suci dalam kalender agama Yahudi. Perayaan itu memperingati tulah terakhir di Mesir ketika anak-anak sulung orang Mesir mati dan anak-anak sulung orang Israel selamat karena darah dari anak domba yang dipercikkan di ambang pintu mereka. Anak domba dipanggang dan dimakan bersama dengan roti tidak beragi. Allah memerintahkan bahwa sepanjang masa hari raya itu harus diperingati. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 12.
Dalam perayaan itu, Yesus dan murid-muridnya menyanyi satu atau beberapa Mazmur Pujian (Mazmur 111-118). Yesus, mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah. Sambil memecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka, Dia berkata, “Ambil, makanlah, inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu.” Demikian pula Dia mengambil cawan sesudah makan dan memberikannya kepada mereka untuk diminum. Dia berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Dia mengakhiri perjamuan itu dengan menyanyikan nyanyian rohani dan kemudian mereka keluar menuju ke Bukit Zaitun. Di sanalah Yesus dikhianati, sebagaimana telah dinubuatkan, oleh Yudas. Pada keesokan harinya Yesus disalibkan.
Kisah mengenai Perjamuan Kudus terdapat dalam Matius 26:26-29, Markus 14:17-25, Lukas 22:7-22, dan Yohanes 13:21-30. Dengan pewahyuan illahi, Rasul Paulus menulis mengenai Perjamuan Kudus dalam 1 Korintus 11:23-29. (Hal ini karena Paulus tidak berada di ruang atas saat Perjamuan Kudus ditetapkan). Paulus memasukkan kata-kata yang tidak terdapat dalam kitab-kitab Injil, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Korintus 11:27-29).(WP/JM)

Selasa, 19 Februari 2013

PERAYAAN PASKAH

Paskah (bahasa Yunani: Πάσχα atau Paskha adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai “anak domba Paskah”; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.
Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya “hari kelima puluh” – hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.
Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya (“bulan purnama” gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)
Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: פסח atau Pesakhdalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.
Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.

Paskah dalam kekristenan
Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen, penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum – perayaan dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.
Menurut tradisi Sinoptik, Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus, yang didasari dari Perjamuan Malam, perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus[5][3]. Pada malam itu sebelum Yesus dihukum mati, Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti dilambangkan sebagai tubuh Yesus dan anggur dilambangkan sebagai darah Yesus, yaitu perlambangan diri Yesus sebagai korban Paskah. Rasul Yohanes dan Pauluslah yang mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan Paskah Perjanjian Lama (Yesus wafat pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikorbankan di kenisah atau Bait Allah)[7]. Kematian dan kebangkitan Yesus inilah yang kemudian diasosiasikan dengan istilah Paskah dalam kekristenan.
Karena Paskah dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan suatu sakramen Ekaristi/Perjamuan Kudus, maka sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai Perjamuan Paskah Kristen[1], atau Perjamuan Kudus Jumat Agung, yang berbeda dari Perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini merayakan perjamuan tersebut lebih dari setahun sekali agar jemaat gereja selalu diingatkan akan peristiwa Paskah.
Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata Paskah disebutkan sebanyak 80 kali dalam 72 ayat sementara di dalam terjemahan BIS disebutkan sebanyak 86 kali dalam 77 ayat.
Paskah pada gereja mula-mula
Gereja mula-mula memperingati peristiwa kebangkitan Yesus dengan perjamuan sederhana dan berdoa[e]. Kemudian dalam perjalanan misinya, Paulus terus mengingatkan jemaat gereja mula-mula akan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus[f] dan perkataan Yesus pada waktu Perjamuan Malam Terakhir. Sumber yang paling awal yang menulis tentang Paskah adalah Melito dari Sardis yang menulis homili berjudul Peri Pascha (Tentang Paskah). Orang-orang Kristen pada zaman tersebut menapak tilas jalan salib (Via Dolorosa) yang dilalui oleh Tuhan Yesus. Kematiannya diperingati sebagai korban keselamatan dalam tradisi Yahudi (bahasa Ibrani: Zerah Syelamin)
Orang Kristen Yahudi terus merayakan Paskah Yahudi, namun mereka tidak lagi mengorbankan domba Paskah karena Kristus dianggap sebagai korban Paskah yang sejati. Perayaan ini diawali dengan berpuasa hingga Jumat jam 3 sore (ada yang melanjutkan hingga pagi Paskah). Perbedaan timbul di seputar tanggal Paskah. Orang Kristen Yahudi dan jemaat provinsi Asia merayakannya pada hari yang bersamaan dengan Paskah Yahudi, yaitu sehari setelah tanggal 14 Nisan (bulan pertama) menurut kalender mereka – kematian Yesus pada 15 Nisan dan kebangkitan Yesus pada 17 Nisan – tanpa mempedulikan harinya[14]; namun orang Kristen non-Yahudi yang tinggal di Kekaisaran Romawi dan juga gereja di Roma dan Aleksandria merayakannya pada hari pertama, yaitu hari Minggu – hari kebangkitan Yesus, tanpa mempedulikan tanggalnya. Metode yang kedua inilah yang akhirnya lebih banyak digunakan di gereja, dan penganut metode yang pertama perlahan-lahan mulai tergusur. Uskup Viktor dari Roma pada akhir abad ke-2 menyatakan perayaan menurut tanggal 14 Nisan adalah bidat dan mengucilkan semua pengikutnya. Beberapa metode penghitungan yang lain di antaranya oleh beberapa uskup di Galia yang menghitung Paskah berdasarkan tanggal tertentu sesuai kalender Romawi, yaitu 25 Maret memperingati kematian Yesus dan 27 Maret memperingati kematian Yesus karena sejak abad ke-3 tanggal 25 Maret dianggap sebagai tanggal penyaliban Namun metode yang terakhir ini tidak digunakan lama. Banyak kalender di Abad Pertengahan yang mencatat tanggal perayaan ini (25 dan 27 Maret) untuk alasan historis, bukan liturgis. Kaum Montanis di Asia Minor merayakan Paskah pada hari Minggu pertama setelah 6 April. Berbagai variasi perhitungan tanggal Paskah tersebut terus berlangsung hingga abad ke-4.
Perselisihan seputar penghitungan hari Minggu Paskah yang tepat tersebut akhirnya dibahas secara resmi pada Konsili Nicea I pada tahun 325 yang memutuskan bahwa hari Paskah adalah hari Minggu, namun tidak mematok hari Minggu tertentu. Kelompok yang merayakan Paskah dengan perhitungan Yahudi dinamakan “Quartodeciman” (bahasa Latin untuk (Nisan) dan dikucilkan dari gereja. Uskup Aleksandria kemudian ditugaskan untuk mencari cara menghitung tanggal Paskah, karena kota itu dianggap sebagai otoritas tertinggi untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi, dan sang uskup diharapkan dapat memutuskan hasilnya untuk diikuti keuskupan-keuskupan yang lain. Namun hasil yang diperoleh tidak memuaskan, terutama untuk gereja-gereja Latin. Banyak gereja masih memakai cara mereka sendiri-sendiri, termasuk gereja di Roma. Akhirnya baru pada abad ke-7 gereja-gereja berhasil mencapai kesepakatan mengenai perhitungan tanggal Minggu Paskah.(jm/wp)

Rabu, 06 Februari 2013

Rasul Paulus

Paulus dari Tarsus (awalnya Saulus dari Tarsus) atau Rasul Paulus, (Masehi–67 Masehi) diakui sebagai tokoh penting dalam merumuskan ajaran Yesus. Paulus digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai Yahudi yang berkebudayaan Yunani (helenis) dan warga Roma dari Tarsus (sekarang Turki). Mulanya ia seorang penganiaya orang Kristen (saat itu bernama Saulus), dan sesudah pengalamannya berjumpa Yesus di jalan menuju kota Damaskus, ia berubah menjadi seorang pengikut Yesus Kristus (Kisah para rasul. 9).

Dia membuat usaha yang luar biasa melalui surat-suratnya kepada komunitas non-Yahudi untuk menunjukkan bahwa keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus adalah untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi. Gagasan Paulus ini menimbulkan pertikaian antara dirinya dengan murid-murid Yesus, terutama Petrus dan Yakobus, yang percaya bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, orang-orang yang bukan Yahudi haruslah pertama-tama menjadi Yahudi terlebih dulu ( Gal. 2:11-14). Untuk menyelesaikan konflik ini, diadakanlah persidangan di Yerusalem (Kis. 15), yang disebut sebagai Sidang Sinode atau Konsili Gereja yang pertama.

Konsili ini menghasilkan beberapa keputusan penting, misalnya:
untuk menikmati karya penyelamatan Yesus, orang tidak harus menjadi Yahudi terlebih dahulu
orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi (mis. hal-perihal tentang sunat dan memakan makanan yang diharamkan).
Paulus mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani.

Paulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan Paulin (kekristenan bercorak Paulus). Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus memainkan peranan penting dalam mendirikan agama Kristen sebagai agama yang berbeda, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme.

Surat-surat Paulus

Surat-surat Paulus bukan hanya menjadi alat komunikasi antara dirinya dengan komunitas-komunitas Kristen perdana, melainkan juga sebagai uraian teologisnya. Menurut para ahli Perjanjian Baru, yang tergolong dalam surat-surat Paulus adalah:
Surat Galatia
Surat 1 dan 2 Korintus
Surat Efesus
Surat Filipi
Surat Kolose
Surat Filemon
Surat 1 dan 2 Tesalonika
Surat Roma

Beberapa surat lainnya seringkali dipercayai berasal dari Paulus juga, seperti Surat 1 dan 2 Timotius dan Surat Titus, namun para ahli Perjanjian Baru juga menduga surat-surat itu ditulis oleh orang lain, kemungkinan adalah para pengikut Paulus.

Paulus dan Trinitas

Paulus adalah orang Ibrani asli dan pengikut aliran paling keras, yaitu dari golongan Farisi. Hal ini bukan hanya memberi dampak yang mendalam atasnya, tapi juga memberi kebanggaan yang besar karena . Ia telah mendapat pengajaran dibawah pengawasan Gamaliel, dan telah berkembang lebih maju daripada kebanyakan temannya sezaman dalam soal agama Yahudi.

Tiap usaha untuk merumuskan bagaimana sifat yang sebenarnya dari agama Yahudi pada abad pertama, seperti yang dikenal Paulus itu, menghadapi banyak kesukaran. Sebab banyak dari bahan yang dimiliki tentang agama Yahudi diambil dari sumber-sumber yang kemudian. Agama Yahudi yang dipimpin para rabi memang memiliki banyak akar yang kuat pada abad pertama. Tapi bentuk-bentuknya yang lebih maju baru timbul pada zaman yang lebih kemudian daripada zaman Paulus. Lagi pula dalam ajaran Yahudi sendiri terdapat pengaruh-pengaruh Helenisme, teristimewa di luar Yudea. Bahkan juga di Palestina sendiri muncul kecenderungan-kecenderungan yang menampakkan beberapa sinkretisme di antara gagasan Yahudi dan Helenisme, seperti yang disaksikan oleh naskah Laut Mati.

Tidak mungkin untuk menghargai beberapa dari corak yang menguasai teologia Paulus, tanpa menunjuk kepada ketegangan-ketegangan yang ada dalam pikiran Paulus sebelum ia bertobat. Agama Yahudi pada hakekatnya adalah agama legalistis (berdasarkan perbuatan) dalam pendekatannya. Bahwa Paulus dikecewakan sekali di bawah sistem itu terang dari sikapnya, jika ia menunjuk kepada pengalamannya yang telah lalu. Ia tahu bahwa pembenaran oleh amal tidak mungkin, karena ia sendiri telah mengalaminya sebagai hal yang tidak mungkin. Namun agama Yahudi adalah pencarian tentang pembenaran, dan tidak ada sistem keagamaan yang akan pernah dapat memuaskan jiwa Paulus, yang tidak menawarkan alat-alat yang cocok untuk mendapatkan kebenaran itu. Barangkali inilah (lebih daripada konsep tunggal lain yang mana pun), yang disumbangkan oleh latar belakang Yahudinya pada perkembangan teologia Paulus.

Suatu corak lain dari pendekatan keagamaan Paulus adalah besarnya pengaruh Perjanjian Lama atas dia. Sekalipun dalam banyak hal ia memakai naskah Septuaginta (LXX), namun pada hakekatnya caranya menggunakan Kitab-kitab Perjanjian Lama adalah cara Yahudi. Dalam hal ini bertentangan dengan Filo dari Alexandria, yang menafsirkan sejarah Alkitab secara alegoris. Tapi Paulus melihat pernyataan Allah pada perbuatan-perbuatan-Nya dalam sejarah.

Sebagai Yahudi, Paulus kuat kepercayaannya kepada Allah yang satu dan benar. Lebih dari itu ia memiliki keyakinan tentang kekudusan Allah. Dalam agama Yahudi kepercayaan ini memimpin kepada transendentalisme, tapi dalam teologia Kristen Paulus tidak ada persoalan tentang Allah yang jauh. Allah didekatkan di dalam Yesus Kristus. Tapi tidak dapat diragukan bahwa bagi konsepsinya yang mulia tentang Allah, Paulus banyak berhutang kepada warisan Yahudinya.

Pandangan Paulus tentang Allah dipengaruhi sekali oleh Perjanjian Lama dan oleh kepercayaan Yahudi yang konsekuen. Pandangan itu pada hakekatnya juga sama dengan yang terdapat dalam ajaran Yesus. Pandangannya tentang Allah tinggi, tapi ia tidak mengikuti kesalahan orang Yahudi sezamannya, yang menjadikan Allah jauh sekali (transendentalisme). Konsepnya tentang Allah dikuasai oleh gagasan tentang kasih karunia, yaitu kebaikan Allah yang bukan berdasarkan kelayakan manusia. Paulus tidak pernah dapat melepaskan diri dari gagasan, bahwa seluruh proses keselamatan itu adalah inisiatif Allah dan tidak tergantung pada usaha manusia. Ia tahu benar kasih Allah di dalam Kristus dan tidak pernah jemu untuk mengucapkan hal itu.

Yesus Kristus sendiri senantiasa berpatokan kepada Perjanjian Lama sedangkan monotheisme adalah dasar dan inti Perjanjian Lama. Perjanjian Lama tidak menulis bahwa Allah yang Esa terdiri atas tiga pribadi yang berbeda. Klimaks Perjanjian Lama adalah Allah sendiri yang telah turun ke bumi untuk melaksanakan penyelamatan dunia dalam rupa Mesias yang ilahi, Manusia Ilahi, tangan Tuhan.(Jm/Wp}