Selasa, 23 April 2013

KEHIDUPAN YANG SALING MENGASIHI




Yohanes 13 : 34 - 35
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Ada banyak cara bagaimana orang lain dapat mengenal kita sebagai orang Kristen, misalnya melalui perhiasan yang kita pakai, sticker yang tertempel di mobil kita, atau doa makan yang dilakukan dan dapat juga melalui kebiasaan kita untuk pergi ke gereja dan lain sebagainya. Tuhan Yesus mengajarkan di dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang akan mengenal kita sebagai murid-murid Kristus melalui saling mengasihi di antara kita. Apabila kita membaca di dalam Kisah Para Rasul 2 : 47 "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.", kita mendapatkan bahwa memang penambahan orang-orang percaya adalah pekerjan Tuhan, tetapi Tuhan juga memakai persekutuan di dalam gereja-Nya yang saling mengasihi. Pengenalan orang kepada kita sebagai murid-murid Tuhan melalui saling mengasihi memiliki suatu kekuatan yang besar baik secara natural maupun secara supranatural (pekerjaan Tuhan) menarik orang lain untuk masuk di dalam persekutuan dan percaya. Acapkali kita menjumpai bahwa argumentasi yang baik bagaimanapun tentang iman seringkali orang lain tetapi tidak percaya, namun saling mengasihi memiliki kekuatan untuk dipercaya oleh orang lain. Dari apa yang kita baca dari Yohanes 13 : 35 itu, seharusnya menyadarkan kita bahwa interaksi kasih di dalam gereja Tuhan memberikan kesaksian yang kuat sekali kepada dunia ini dan saling mengasihi adalah karakteristik daripada murid-murid Kristus.
KEKUATAN SALING MENGASIHI
Pada bagian di atas, kita sudah melihat bagaimana kekuatan saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan kepada orang lain. Namun tidak berhenti di sana, saling mengasihi di antara anak-anak Tuhan juga menjadi kekuatan yang besar di dalam anak-anak Tuhan itu sendiri baik secara individu maupun secara kebersamaan. Kasih yang seperti ini adalah kasih yang memberdayakan, yaitu kasih yang bersifat dua arah, di mana dengan berjalan waktu, maka setiap individu di dalamnya semakin dimampukan untuk lebih mengasihi. Berbeda sekali dengan kasih yang bersifat satu arah! Kasih yang satu arah atau senantiasa hendak dikasihi tanpa mau membalas kasih akan mengalami kasih yang memperdayakan, karena kasih yang dialaminya tidak membuat dia mampu mengasihi, melainkan menjadi terlena dan semakin lemah. Gereja yang anggota-anggotanya saling mengasihi memberikan suatu pertumbuhan bagi anggota-anggota secara signifikan, karena setiap anggotanya dapat dengan bebas, tanpa curiga dan ketakutan, mengekspresikan kasihnya. Dan hal ini adalah suatu latihan yang amat bernilai, yaitu latihan bagaimana kita mengasihi orang lain.
MENGATASI KESULITAN SALING MENGASIHI
Kita semua sadar bahwa tidak mudah untuk saling mengasihi di dalam gereja Tuhan. Ada banyak alas an mengapa hal itu menjadi sulit. Kesulitan itu seringkali membuat kita tidak melakukan apa yang Tuhan inginkan. Mengapa terjadi kesulitan itu dan bagaimanakah jalan keluarnya?
  1. Apabila kita mengasihi semata-mata berdasarkan apa yang kita rasakan atau perasaan kita, maka kita sulit sekali untuk bisa terlibat di dalam saling mengasihi di dalam gereja. Karena orang-orang yang ada di dalam gereja tidak semua kita kenal. Kenal merupakan hal yang amat penting di dalam kasih menurut perasaan! Belum lagi ada orang-orang yang kita kenal, tetapi kita kurang dapat menerima orang-orang tersebut dengan pelbagai alasan. Alkitab dengan konsisten menempatkan kasih pada konteks perintah Tuhan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa kasih adalah sesuatu yang harus ditaati sepenuhnya apapun perasaan dan situasi yang kita alami. Artinya kasih bukan didasarkan kepada perasaan kita, melainkan kepada komitmen kehendak kita untuk mengasihi. Kasih yang seperti ini memungkinkan kita untuk mengasihi musuh kita. Apakah kasih seperti ini adalah kasih yang munafik? Kasih yang munafik bukanlah kasih, karena memiliki bersifat ketidaktulusan. Kasih di dalam konteks perintah Tuhan tidak demikian, melainkan kasih yang dilakukan karena hendak menaati Tuhan dan dengan kesungguhan agar kasih yang dinyatakan sesuai juga dengan apa yang terjadi dalam batin kita.
  2. Apabila kita mengasihi semata-mata hanya melihat siapa yang kita kasihi, maka kita sulit sekali untuk saling mengasihi. Setiap orang pasti adalah kelemahan dan kekurangan, bahkan meskipun orang tersebut tidak berbuat sesuatu yang salah sekalipun, tidak selalu hal itu menjadikan kita dapat akrab dengan orang tersebut. Masalahnya adalah setiap kita memiliki citarasa tersendiri di dalam bergaul. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia memberikan perintah baru! "Baru" karena ada sebuah teladan yang sempurna yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib bagi kita, itulah yang disebut dengan "sebagaimana Aku telah mengasihi kamu" Ketika mata kita tertuju kepada apa yang telah Kristus perbuat bagi kita, maka pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus dan teladan Kristus memberikan suatu dorongan yang amat besar untuk kita mampu saling mengasihi tanpa suatu syarat apapun.
  3. Apabila kita mengasihi berdasarkan kekuatan kita sendiri, maka kita sulit sekali untuk hidup saling mengasihi. Perintah baru Tuhan Yesus didasarkan atas karya Kristus di kayu salib dan melalui karya tersebut setiap orang percaya menerima Roh Kudus. Perintah baru ini bukan berdasarkan kekuatan diri sendiri, melainkan berdasarkan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Ketaatan adalah pintu terbuka bagi keleluasaan Roh Kudus bekerja dan menghasilkan buah Roh Kudus dengan heran.
SALING MENGASIHI: EKSKLUSIF?
Apakah dengan perintah saling mengasihi di antara orang percaya memberikan dorongan bagi orang-orang Kristen untuk hidup secara eksklusif? Tidak demikian! Alkitab mengatakan: "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." ( I Yohanes 4 : 12). Kehadiran Allah di tengah-tengah kita yang saling mengasihi mendorong kita untuk juga mengasihi orang lain. Kehadiran Allah di tengah-tengah kita tidak membuat kita menjadi orang-orang Kristen yang nyaman hanya untuk dirinya sendiri, melain menjadikan orang-orang Kristen yang rindu berbagi kasih dengan orang lain juga. Secara psikologis, maka orang-orang yang mengalami suatu kehidupan komunitas yang saling mengasihi menjadi individu-individu yang sehat dan sanggup bahkan mau membagikan kasih juga dengan orang lain. Saling mengasihi yang eksklusif bukan kasih yang sesungguhnya yang Allah kehendaki.(Pdt. Reggy Andreas)  .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar