Selasa, 26 Mei 2015

Kasih Tuhan yang Ajaib

Tuhan memiliki beragam cara untuk mendapatkan perhatian kita agar Dia bisa menunjukan betapa besar kasihNya pada kita. PerlakuanNya kepada kita didasarkan atas prinsip yang sempurna. Mungkin itu mengejutkan anda betapa indah kehendak Tuhan bagi kita saat kita mengijinkan Dia berkarya dalam hidup kita. Prinsip disiplinnya tidak pernah menyenangkan, tapi itu membawa kepada kemurnian dan kedamaian.
Banyak orang Kristen, termasuk pendeta, penulis lagu, puisi, dan lainnya, menjadi subjek “kasih Tuhan.” Saya ragu salah satu dari mereka tahu artinya kata kasih. Mereka menggunakan itu sebagai topeng untuk menutupi sakit fisik, rohani, dan moral mereka. Katakan pada orang bahwa Tuhan mengasihi mereka dan mereka akan merasa enak. Mereka akan gembira dan hatinya ringan. Seorang pengkotbah menutup kotbahnya dengan berkat seperti ini: Tuhan mengasihi anda, dan saya juga. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu, saya juga tidak mempertanyakan ketulusan dan kejujuran pendeta saat dia mengatakan hal itu. Tapi saat orang Kristen benar-benar terluka, sulit mendamaikan kasih Tuhan dengan penderitaan dan kesulitan manusia. Baru-baru ini seorang wanita Kristen berkata pada saya, jika Tuhan mengasihi saya, kenapa Dia membuat saya menderita? Masalahnya terletak pada kurang mengertinya dia akan kasih Tuhan.
Alkitab mengatakan pada kita kalau itu kasih yang misteri. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah (1 John 3:1). Perhatikan kata betapa besar. Kata Yunaninya potapos, suatu kata sifat yang menggambarkan sesuatu yang aneh atau asing –seperti dari luar negeri. Itu tidak hanya menunjukan kebesaran seperti beberapa terjemahan modern. Saat Tuhan kita menegur angin dan menenangkan laut. “Dan heranlah orang-orang itu, katanya: Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya? (Matthew 8:27, italics ditambahkan). Mereka melihat sesuatu yang terlewatkan sebelumnya. Saat mereka melihat mujizat, mereka berpikir, Orang ini pasti dari luar dunia. Apa yang kita lihat sangat aneh dan asing.
Kita melihat kasih yang “heran” ini dalam Romans 5:8: Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Itu kasih yang heran sehingga menyebabkan seorang bapa mengutus anaknya untuk mati bagi pendosa, terutama saat Anak adalah benar dan kudus. Kita tidak mengetahui kasih seperti itu. Itu asing bagi kita karena itu datang dari dunia yang lain. Itu tidak pernah jadi bagian dari peradaban manusia. Manusia didunia tidak pernah menyaksikan kasih seperti itu. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 John 4:10). Bentuk kasih yang asing itu mengganggu pikiran kita. Apakah kita bisa atau tidak mengerti hal itu, kenyataan bahwa itu heran tetap nyata –Tuhan mengutus AnakNya yang tidak berdosa untuk mati bagi kita yang berdosa. Betapa kasih yang heran!
Hal itu membuat kita memikirkan secara serius kasih yang heran dari Tuhan didalam kehidupan anakNya. Ini dijelaskan dalam salah satu bagian Alkitab. karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Hebrews 12:6).
Pembaca yang baik, jika anda benar adalah anak Allah sejati, sejati artinya anda sudah mengalami kelahiran baru, maka inilah kebenaran yang harus anda temukan dengan pengalaman. Anda dan saya harus belajar –dan jangan terbawa arus dari –kebenaran ini bahwa kasih Tuhan yang heran mengharuskan Dia menghajar kita sampai jera. Mari kita selidiki ayat ini dalam konteksnya.

Pertimbangan Seruan

Pemikiran bahwa kasih Tuhan menghajar anak-anakNya sampai jera tidak bisa diterima bagi sebagian besar dari kita. Saat anak bertumbuh kita semua memiliki pemikiran bahwa orangtua menunjukan kasihnya pada kita saat mereka memberikan hal yang kita suka dan nikmati. Tapi saat mereka memberi pembatasan bagi kita, kita langsung menyimpulkan kalau mereka tidak mengasihi kita. Kita bisa mengerti kasih yang mengelus dan menghibur kita, tapi kita tidak bisa mencocokan kasih dengan menghajar sampai jera atau koreksi.
Orang Kristen dimana tujuan surat Ibrani ditulis adalah Yahudi. Mereka adalah kelompok minoritas yang percaya Yesus Kristus sebagai Mesias. Saudara Yahudi mereka yang tidak percaya telah mengasingkan mereka. Orang non Yahudi yang tidak percaya memandang mereka rendah. Mereka tidak bisa mendapat pekerjaan. Penyiksaan sangat sulit ditanggung. Jika mereka membuat keputusan yang benar dengan menjadi Kristen, kenapa mereka menderita hal ini? Jika Tuhan mengasihi mereka, bukankah Dia seharusnya menyelamatkan mereka dari penderitaan dan penyiksaan ini? Mereka diajarkan bahwa Tuhan mengasihi semua orang berdosa dan karena itu Dia mengutus AnakNya yang tunggal untuk mati bagi mereka. Mereka percaya pesan itu, tapi sekarang semua yang mereka rasakan adalah pernderitaan dan kesulitan. Apakah begitu cara Tuhan menunjukan kasihNya kepada anak-anakNya? Jelas ada satu hal mengenai kasih yang mereka belum pelajari.
Roh Kudus mengarahkan penulisNya untuk menulis kata-kata yang bisa memenuhi kebutuhan hati mereka. Dia mulai dengan membawa perhatian mereka pada PL yang sudah mereka lupakan, Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak (Hebrews 12:5). Dia membawa mereka kembali pada Firman Tuhan yang tertulis, sumber kebenaran bagi setiap anak Tuhan. Dia mengutip perkataan langsung Tuhan kepada mereka. Perhatikan, “sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu (italics ditambahkan). Sebagian ekspositor mengartikan pernyataan ini seperti interogasi, Apakah kamu sudah lupa nasihat itu? Dan apakah kebenaran penting yang mereka lewatkan ? Itu adalah kasih Tuhan yang heran: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Hebrews 12:5-6).
Pelupa bisa menjadi hal berbahaya. Betapa bodohnya kita saat kita melupakan Firman Tuhan. Dan perhatikan kata yang cenderung kita lupakan, yaitu, nasihat. Kata nasihat (Yunani: parakaleo„) artinya menegur atau mendorong untuk mengejar suatu sikap tertentu. Ini merupakan kata nasihat kepada orang Yahudi yang lupa, bukan perjanjian Tuhan yang tidak bersyarat, juga bukan janji Tuhan akan hidup kekal. Alkitab yang dikutip ada dalam Proverbs 3:11-12: “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.”
Penyelidikan Alkitab bisa jadi menarik dan atraktif, dan tetap menarik selama itu tidak membuat tuntutan bagi mereka. Mereka bisa menikmati kotbah dibukit tentang kasih selama pengajaran itu tidak masuk kedalam gaya hidup mereka. Mereka tidak pernah lupa perkataan Tuhan dalam Jeremiah 31:3: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal atau dalam John 3:16 dimana Tuhan kita berkata, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kenapa bisa ingat ayat tertentu tentang kasih Tuhan dan melupakan ayat lainnya? Itu karena kita pemilih. Kita dengan sadar melupakan kasih Tuhan yang heran.
Sempatkan waktu duduk membaca kitab Ulangan. Disana anda akan mendengar Tuhan berkata berulang-ulang, Ingat . . . dan jangan lupa. Tandai setiap pemunculan kata ingat dan jangan lupa. Waktu 2 jam melatih kerohanian anda merupakan hal berharga.

Pertimbangan Penjelasan

Dalam pasal 11 kitab Ibrani penulis menunjuk fakta bahwa banyak orang percaya dalam PL menderita. Dia mengambil ilustrasi dari beberapa periode sejarah Alkitab dan menunjukan bahwa banyak yang menderita. Mereka menghadapi keganjilan untuk kemuliaan Tuhan. Dan Tuhan dalam sejarah PL tetap sama sampai sekarang.
Dalam pasal 12 orang Kristen ditunjukan bagaimana memandang penobaan dan ujian dalam hidup. Kata kunci dalam verses 5-11 adalah menghajar sampai jera, muncul beberapa kali dalam bentuk beragam setidaknya 7 kali. Kata Yunaninya paideia, dari pais, artinya anak. Itu istilah digunakan secara luas bagi orangtua yang mendidik anaknya. Tuhan juga memiliki cara menghajar sampai jera anak-anakNya, dan apapun cara yang Dia gunakan adalah untuk kebaikan. Hidup tanpa disiplin tidak ada nilai.
Hajaran Tuhan menunjukan kasihNya. “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Hebrews 12:6). Itu tidak mengijinkan ayah berlaku seenaknya pada anak. Disiplin Tuhan selalu dimotivasi oleh kasih. Itu meneguhkan kasih Tuhan pada kita. Ada kasih orangtua dalam disiplin Bapa disorga. Tuhan tidak bertindak seperti hakim, tapi sebagai bapa. Bahkan dalam kekecewaan, cobaan paling berat diijinkan melalui hikmat sempurna dari kasih Tuhan yang heran, asing bagi manusia yang sudah jatuh. Apapun perasaan kita, hajaran menunjukan kasih Tuhan.
Hajaran Tuhan meneguhkan kita sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang (Hebrews 12:7-8). Kitab Ibrani ditujukan bagi anak Tuhan, sehingga hajaran menujukan tanda anak. Tidak diragukan ada diantara orang percaya Ibrani yang mengaku beriman tapi belum lahir baru. Mereka tidak akan pernah mengerti ada Tuhan berlaku pada anakNya untuk menyenangkanNya. Apa yang Tuhan ingin dari kita lebih tinggi dan mulia dari apa yang kita pikir orangtua dunia lakukan pada anaknya.
Tidak ada cara mendapatkan status anak tanpa hajaran. Mereka yang tidak dihajar tapi mengaku anak membuat kebohongan. Orang percaya yang hebat dimasa lalu melalui penderitaan dan kesulitan. Mereka tahu mereka memiliki hidup kekal karena mereka percaya Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselama pribadi mereka (John 3:16; 5:24); karena mereka mengalami Tuhan memimpin mereka (Romans 8:14); karena Roh Tuhan bersaksi dalam roh mereka (Romans 8:15-16); dan karena mereka mengalami disiplin Tuhan dalam hidup mereka. Jika mengaku Kristen tanpa dihajar, mereka tidak sah, bukan anak sejati. Demikian Firman Tuhan.
Hajaran Tuhan memperbaiki kesalahan kita. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (Hebrews 12:9). Bapa kita dibumi disebut “pengkoreksi” (Yunani: paideute„s, artinya seorang penghukum. Untuk mengkoreksi adalah mengembalikan kepada keadaan yang benar. Kesalahan harus diperbaiki, dan yang bengkok harus diluruskan. Setiap orang Kristen memiliki kesalahan dan kegagalan yang butuh dikoreksi (James 3:2). Orangtua kita mengkoreksi kita dan harus begitu dalam hubungan kita dengan mereka. Jika kita harus tunduk pada koreksi mereka, maka betapa kita harus tunduk pada Bapa kita disorga! Saat kita dilahirkan kembali, kita menerima nature baru, nature dari Tuhan, sehingga kita “mengambil bagian dari nature ilahi (2 Peter 1:4). Bagaimanapun, dalam setiap orang Kristen masih mungkin berdosa dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Dosa yang kita lakukan sebagai orang Kristen harus diakui dan diampuni: Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia (1 Corinthians 11:31-32). Paulus berkata bahwa jika orang Kristen memahami, bahwa jika kita membedakan antara apa kita dan apa yang disyaratkan Tuhan untuk menjadi, kita tidak perlu dihajar oleh Tuhan. Jika kita benar-benar mengenal diri kita dan menilai diri kita dengan benar, kita tidak perlu dihajar Tuhan. Orang Korintus dihajar, bukan karena mereka tidak percaya, tapi karena mereka milik Kristus. Saudara terkasih, mari kita menguji diri kita setiap hari dan sampai pada nilai yang benar dari diri kita (1 Corinthians 11:28). Mari kita tidak berhenti sampai setiap dosa diakui dan diampuni.
Hajaran Tuhan mengendalikan tempramen kita. Kita tidak sama. Kecenderungan pribadi berbeda. Jika kita tidak mengatur kelemahan kita, Tuhan akan menggunakan cara kebapakanNya untuk menghajar sampai jera. Amsal berkata, Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi (Proverbs 28 :13). Kadang hajaran Tuhan, dilakukan untuk menjaga kita. Saat Tuhan menghajar Dia tidak plin-plan tapi dengan perhatian dan pertimbangan kebaikan kita. Sekali lagi, mari kita ingat bahwa hajaran Tuhan dilakukan dengan kasih. Dan kedaulatanNyalah untuk mendisiplin kita kapanpun dan bagaimanapun Dia mau.
Rasul Paulus cenderung untuk sombong. Itu dosa yang belum hilang dan perlu dikekang. Dia menulis tentang itu dalam surat keduanya pada jemaat Korintus: Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. (2 Corinthians 12:7). Perhatikan bahwa ayat ini tidak dimulai dengan kalimat yang sama, supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu. Kita mungkin berasumsi bahwa Paulus cenderung meninggikan diri, dosa umum “menjadi sombong (1 Timothy 3:6) atau menjadi “tinggi hati (1 Timothy 6:17). Melalui hajaran kasih Tuhan, Paulus belajar dengan baik sehingga dia bisa menulis, Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing (Romans 12:3).
Saat kita menemukan kelemahan dalam diri kita masing-masing, kita harus mengekangnya. Jika kita mengabaikannya dan membiarkan itu tumbuh, Tuhan akan masuk dan menghajar kita. Mencegah lebih baik dari mengobati. Hajaran merupakan salah satu berkat Tuhan. Apakah kita bersyukur atas hal ini?
Hajaran Tuhan membersihkan dosa kita. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Hebrews 12:9-10). Kata “kekudusan” Yunaninya hagiasmos, artinya pengudusan. Artinya disini adalah dipisahkan untuk Tuhan. Ini tidak hanya pengudusan posisi, tapi pengudusan praktis, suatu tindakan yang sesuai dengan pemisahan. Paulus menggunakan kata yang sama dalam, Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Thessalonians 4:7) dan Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Romans 6:22).
Buah kekudusan harusnya menjadi jalan hidup yang sesuai bagi semua anak Tuhan. Secara kedudukan kita dipisahkan untuk Tuhan melalui iman dalam Yesus Kristus. Roh Kudus menyucikan (memisahkan) setiap orang percaya disaat diselamatkan (1 Corinthians 6:11), dasar pengudusan posisi ada dalam kematian Kristus (Hebrews 10:10, 29; 13:12). Bagaimanapun, tujuan Tuhan dalam menyelamatkan kita melalui kematian anakNya agar kita dipisahkand dari pikiran, perkataan dan tindakan jahat: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan (1 Thessalonians 4:3). Kita semua harus mengejar kekudusan. Kita mempelajari itu saat kita membaca, mempelajari, dan mentaati Firman Tuhan (Psalm 119:9, 11; John 15:3; 17:17, 19; 1 Peter 2:2).
Jika, sebaliknya, kita mengabaikan pengejaran akan kekudusan, maka Tuhan akan masuk dan menghajar kita. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Revelation 3:19). Dan saat Dia melakukan itu, kita harus menerima disiplin itu, bukan untuk menyakiti kita tapi mengarahkan kita pada kebaikan. Hajaran Tuhan dibuat agar kita menjadi orang Kristen yang lebih bijak dan baik. Saya meragukan ada orang Kristen yang bisa dewasa rohani tanpa dihajar Tuhan.

Pertimbangan Harapan

Ayat ini mengusulkan 3 cara reaksi kita akan disiplin dari Tuhan.
Kita bisa mengabaikannya. Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan (Hebrews 12:5). Kata mengabaikan (exoutheneo„) artinya mengancam dengan sengaja. Kita jangan menganggap hajaran Tuhan sebagai hal enteng. Semua itu “untuk kebaikan kita” (Hebrews 12:10) jangan dipandang rendah. Saat saya masih jadi pastor di Detroit, orang muda berumur 21 tahun terbunuh dalam kecelakaan motor di John Lodge Expressway. Walau ibunya Kristen, dia menjadi marah dan pahit terhadap Tuhan. Dia tidak menerima ujian dari Tuhan. Saya mencoba menjelaskan agar dia tidak diharapkan mengecilkan masalahnya, tapi juga tidak mengecilkan hajaran Tuhan. Tuhan yang mengatur, dan Dia selalu memiliki tujuan yang baik dan bijak dalam menghajar anakNya. Orang Kristen memang menderita. “melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi (Job 5:7). Dalam dunia kamu menderita penganiayaan (John 16:33). Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2 Timothy 3:12). Kita pasti didisiplin dalam hidup, tapi jangan memandang rendah hal ini.
Kita bisa putus asa. janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya (Hebrews 12:5). Kata Yunaninya ekluo„ dan itu artinya menjadi letih, putus asa. Orang Kristen adalah pengelana, yang terus bergerak. Dia pergi kesuatu tempat. Tujuannya adalah keserupaan dengan Tuhan Yesus Kristus yang disalib dan dipermalukan. Kristus sendiri adalah teladan –Dia tidak putus asa. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa (Hebrews 12:3). Ini ayat yang bagus dibaca saat ujian hidup membuat kita menjadi letih. Kita diperintahkan untuk berhenti dan memikirkan penderitaan Kristus. Pelajari bahwa Dia bertahan saat Dia didunia. Saat kita merenungkan Firman Tuhan setiap hari, Roh Kudus bisa mengingatkan akan Kristus dan menjelaskannya pada kita. Ini memampukan kita bertahan dengan sabar. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatians 6:9).
Kita bisa menerima itu datangnya dari Bapa yang kasih. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Hebrews 12:11). Disiplin Tuhan tidak pernah tanpa rencana dan tujuan. Itu selalu dipikir baik-baik. Saat Tuhan menghajar kita Dia ingin mencapai sesuatu dalam kita untuk kebaikan kita dan kemuliaanNya. Jadi setiap tindakan hajaran Tuhan ada harapan yang cerah, sesuatu yang kita harapkan. Penulis menyebutnya “pada waktunya” Dan kita yakin kalau disiplin Bapa tidak pernah mengecewakan. Jangan mengabaikan hal ini. Sebagian dari mereka mengandung janji bagi masa depan kita dengan harapan dan penantian.
Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Hebrews 12:11, italics added)
Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak. (John 13:7, italics added)
Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (Psalm 73:24, italics added)
Kesimpulannya, perhatikan bahwa berkat hajaran datang kepada mereka “yang dilatih olehnya. Kita dilatih melalui ujian dan pencobaan. Kata Yunaninya gumnazo„, artinya melatih tubuh atau pikiran dengan melihat kekudusan dan kebenaran. Saat kita menerima hajaran dan dilatih olehnya, kita belajar itu merupakan berkat kelimpahan dari Tuhan.
Kita menemukan bahwa terapi fisik bagi hidup saya dalam kelumpuhan Elsie merupakan sangat sulit dan menyakitkan. Itu tidak pernah jadi nyaman jika melalui pengobatan, tapi dia bertahan dengan harapan ada perkembangan.
Betapa lebih lagi kita harus melatih diri kita untuk dilatih melalui hajaran Tuhan. Penulis Ibrani menjelaskan dalam pasal 5. Dia bicara tentang kegagalan orang percaya untuk belajar kedalaman kebenaran Firman Tuhan. Semua masih bayi dan tidak berpengalaman serta tidak ahli dalam menghadapi masalah hidup: Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat (Hebrews 5:14).
Bertumbuh secara rohani tidak hanya masalah waktu. Itu bukan pengalaman yang ada sejalan waktu seperti pertumbuhan fisik. Seorang muda mengundang saya untuk makan malam dirumahnya. Dia ingin saya bertemu istrinya dan anaknya perempuan berumur 6 tahun. Jika gadis kecil ini 6 dan ibunya 30 tahun, saya bisa memperkirakan apa yang dilihat melalui umur mereka.
Tapi tidak begitu dalam pengalaman rohani. Mungkin saja orang yang sudah diselamatkan 6 tahun lebih dewasa dari yang sudah 30 tahun. Dalam hal rohani orang Kristen lamban mendengar (Hebrews 5:11). Mereka mundur dalam mendengar dan melakukan Firman. Maka itu mereka tidak lagi melatihnya dan tidak bertumbuh secara rohani. Kata sifat yang digunakan adalah kata Yunani nothroi berarti kemalasan. Itu suatu kondisi seseorang kehilangan keinginan akan Firman Tuhan.
Sebagian orang Kristen terlatih melalui ujian mereka tapi sebagian lain tidak. Sebagian merasa sakit hati terhadap hajaran itu dan sakit hati pada Tuhan sementara yang lain menerima disiplin Tuhan dan berkembang karenanya. Alkitab tidak mengatakan kalau orang percaya harus menikmati hajaran, tapi kita diharapkan menghargainya dan bertindak dengan tepat. Saat kita mengerti alasan Tuhan menghajar kita, itu akan mendatangkan kebaikan. Penderitaan harus lahir dari roh yang benar jika kita ingin mendapat keuntungan darinya. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar